Sertifikasi dan Saintifikasi Jamu sebagai Obat Resep

Industri jamu memasuki babak baru dalam perjalanannya, seiring keputusan pemerintah mengembangkan uji ilmiah jamu berbasis pelayanan kesehatan. Tujuannya untuk memberikan landasan ilmiah penggunaan jamu secara empiris sehingga baik masyarakat maupun dokter menjadi yakin untuk memanfaatkan jamu sebagai pengobatan resmi.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu (GP Jamu) Charles Saerang meyakinkan, saintifikasi produk jamu ini bukan untuk menggeser pasar obat farmasi, melainkan membuka peluang pasar baru industri pengobatan nasional. Tahun lalu, berdasarkan data GP Jamu, nilai penjualan industri farmasi senilai Rp 34 triliun dan industri jamu Rp 8,2 triliun.

Bahkan, kata Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, saintifikasi berguna untuk menempatkan industri jamu sebagai tuan rumah di negeri sendiri. “Dalam waktu dekat akan keluar permenkes yang mengatur saintifikasi, sertifikasi dokter, dan distribusi jamu yang lolos saintifikasi,” kata Menkes pada Seminar dan Pameran Saintifikasi Jamu di Kabupaten Kendal, Rabu (6/1/2010).

Menkes mengatakan, pemerintah akan mengajak para stakeholder, seperti GP Jamu, Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dan akademisi, serta masyarakat dalam pengujian ilmiah jamu tersebut. “Nanti, dana penelitiannya ditanggung renteng antara pemerintah, pemkab, dan industri,” ujar Menkes.

Pemerintah berupaya melakukan saintifikasi terhadap jamu dengan melibatkan para dokter melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan. Upaya itu guna mengangkat dan memperluas penggunaan jamu di masyarakat. Program saintifikasi itu dicanangkan oleh Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Rabu (6/1). Endang mengatakan, di tengah masih mahalnya harga obat karena, antara lain, 95 persen bahan bakunya masih impor, jamu yang asli Indonesia dapat menjadi alternatif menjaga kesehatan terutama untuk tindakan preventif, promotif, rehabilitatif, dan paliatif. Lebih lanjut, lewat saintifikasi jamu tersebut diharapkan terkumpul bukti-bukti ilmiah tentang khasiat jamu. Saintifikasi jamu merupakan proses penelitian berbasis pelayanan kesehatan.

Selama ini, dokter enggan menggunakan jamu karena mereka berpegang pada terapi yang telah mempunyai bukti dan landasan ilmiah (evidence based). Saintifikasi itu bertujuan untuk memberikan landasan ilmiah penggunaan jamu secara empiris melalui penelitian berbasis pelayanan.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Agus Purwandianto mengatakan, salah satu tahapan dari saintifikasi jamu ialah membentuk jaringan dokter, dokter gigi, dan tenaga kesehatan lainnya sebagai peneliti. ”Tahap awal, di Kabupaten Kendal ada sembilan dokter terlibat untuk menggunakan setidaknya sembilan tanaman obat. Jamu yang akan digunakan oleh para dokter dan dikumpulkan bukti-bukti khasiatnya serta diteliti itu harus melalui Komisi Nasional Saintifikasi Jamu,” ujarnya. Pemerintah daerah akan mendukung lewat kemudahan perizinan agar para dokter yang menggunakan jamu tersebut tidak menemukan kesulitan dalam menjalankan praktiknya.

Induk Koperasi Hasil Hutan Rempah dan Jamu (Inkojam) bersama Gabungan Pengusaha Jamu (GP Jamu) memfasilitasi usaha kecil menengah produsen jamu untuk mendapatkan sertifikat mutu dari Bandan Standardisasi Nasional (BSN). Ketua Inkojam Herbeth Mindo Sitorus mengatakan langkah ini untuk menyikapi maraknya isu penggunaan bahan kimia pada produk jamu yang dihasilkan produsen kecil jamu di Cilacap dan Cirebon. “Kami sepakat produk mereka dilengkapi dengan sertifikat BSN sebelum dijual ke pasar,” ujar Mindo Sitorus seusai rapat kerja nasional Inkojam, baru-baru ini. Untuk itu, Inkojam bersama GP Jamu akan melakukan sosialisasi penggunaan sertifikat tersebut kepada seluruh industri jamu, khususnya produsen dengan skala rumahan. Keputusan rakernas Inkojam tersebut untuk menghadang masuknya produk jamu impor. Inkojam juga berencana membubuhkan label induk koperasi itu pada produk sebagai legalisasi tambahan. Produk jamu anggota Inkojam sebelumnya dilengkapi izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia, tetapi dipandang perlu labelisasi tambahan untuk memberi rasa aman kepada konsumen.

Ribuan produsen jamu skala kecil dari Kabupaten Cilacap dan Cirebon mulai merasakan dampak isu penyertaan bahan kimia, karena konsumsi masyarakat terhadap jamu mulai menurun. Beberapa perusahaan jamu skala besar selaku anggota Inkojam, seperti Perusahaan Jamu Nyonya Meneer, bersedia memasarkan produk jamu yang dihasilkan usaha kecil. “Pemasaran direncakan dengan skala lebih luas dengan melibatkan beberapa perusahaan strategis. Satu perusahaan BUMN yang sudah sepakat menjalin kerja sama dengan kami adalah PT Angkasa Pura,” papar Mindo.

Di Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta jamu dipasarkan dengan target para pengunjung ataupun penumpang pesawat terbang. Dengan strategi tersebut produk jamu lokal diharapkan mampu bangkit kembali sekaligus menahan laju produk impor. Pasar lain yang tengah rintis adalah hotel di sejumlah kota. Dengan menciptakan pemasaran yang positif tersebut Mindo optimistis usaha kecil menengah jamu bisa menikmati kesejahteraan. Konsumsi jamu juga mulai meningkat di beberapa daerah yang selama ini tidak diperhitungkan, seperti Provinsi Papua, Riau dan Kalsel.

Sumber :

http://kesehatan.kompas.com/read/2010/01/07/05263664/Depkes:.Jamu.Perlu.Disaintifikasi

• Mulia Ginting Munthe Bisnis Indonesia

About these ads

6 Komentar (+add yours?)

  1. Ali Mashuda, S. Si., Apt
    Feb 17, 2010 @ 23:16:15

    Kami Perusahaan Industri Kecil Obat Tradisional yang berdomisili di Kabupaten Purwakarta – Jawa Barat telah membaca dan memahami Permenkes No. 003/MENKES/PER/I/2010 tentang SAINTIFIKASI JAMU DALAM PENELITIAN BERBASIS PELAYANAN KESEHATAN. Sebagai pendatang baru sekaligus memiliki kemauan kuat untuk mengembangkan herbal di Indonesia sangat mendukung upaya-upaya Pemerintah untuk mengembangkan penggunaan herbal di Indonesia. Kami merasakan bahwa pembinaan GP Jamu dalam upaya pengembangan mutu dan produktifitas masih sangat kurang, terlebih pola dan pergerakan GP Jamu Jawa Barat juga kurang nampak ‘gregetnya’.
    Apa yang disampaikan Bpk. Charles Saerang amatlah sangat kami dukung. Kami berharap agar dapat dilakukan sejumlah Pelatihan sistematis yang diperlukan. Dan untuk itu saya sekaligus sebagai Pemilik Perusahaan CV. HERBAGOLD dengan profesi sebagai Apoteker menyediakan diri untuk turut menyusun Program Pelatihan yang dimaksud. Kami telah menggeluti Pekerjaan ini sejak tahun 2001 di PT. DAMI SARIWANA Semarang. Ditambah banyak pengalaman interaksi dengan kawa-kawan dokter dan para Pengobat Tradisional sejak Tahun 2003 di RS. HOLISTIC di Purwakarta serta Organisasi Profesi (Ikatan Apoteker Indonesia, dll) kiranya cukup untuk membantu menuangkan konsep-konsep secara integral.
    Kami berharap, kami mendapat tanggapan yang mmadai dari GP JAMU.
    Terima kasih.

    alimashuda
    0817 9262 190

    Balas

    • andri
      Des 31, 2010 @ 14:14:20

      mari kita dukung saintifikasi jamu untuk
      berkembangnya jamu yang bersaitifikasi
      dan berkembangnya jamu-jamu asli indonesia,
      menjadikan rujukan pertama bagi rakyat
      Indonesia.
      Klinik kami akan menjadikan sebuah klinik jamu
      satu dari rujukan bagi rakyat indonesia, yang
      akan dibentuk di sebau rumah sakit di daerah
      jakarta barat yaitu RS Puri Mandiri Kedoya.
      mari sebarkan jamu yang bersaitifikasi dan asli
      Indonesia.

      Balas

  2. apotekgriyafarma
    Feb 18, 2010 @ 09:48:07

    sepakat Pak Ali, sudah saatnya Indonesia mandiri dalam industri Farmasi

    Balas

  3. Ari Kurniawan
    Mar 09, 2010 @ 21:52:20

    Saatnya pengobatan timur !!!! Semua adalah persaingan Barat dan Timur….Timur harus menang….!!!

    Balas

  4. danil
    Okt 12, 2010 @ 01:10:33

    sertifikasi atau saintifikasi jamu atau apapunlah namanya, adalah penting sebagai langkah untuk perlindungan konsumen … dst.

    Bagi industri jamu besar sekelas Sido muncul, air mancur dll. tentu tidak jadi masalah karena memereka telah memiliki laboratorium didukung dengan tenaga-tenaga analis yang handal. tapi persoalanya bagai mana dengan industri kecil atau katakanlah jamu gendong dan sekelasnya, dan patut dicatat kelompok industri jamu skla kecil ini sangat banyak dan konsumenya pun sangat banyak.

    Bagaimana solusinya

    Balas

  5. nafsi(D3 Jamu Poltekkes Kemenkes Surakarta)
    Sep 11, 2011 @ 13:26:24

    Yupz,semoga slalu berjalan lancar…mohon bantuannya ya..saya dari mahasiswi Jamu masih butuh banyak informasi dan pembelajaran. ^_^,,,makasii

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: