Dosis Obat Mesti Tepat

Setiap obat memiliki aturan pakai atau dosis tersendiri. Jangan mereka-reka dosis jika tak ingin anak sakit berlarut-larut atau bahkan mendapat efek sampingnya.

Dosis diukur dari miligram per kilogram berat badan pasien. Dosis obat yang diberikan memiliki rentang minimal dan maksimalnya. Misal, INH (isoniazid) yang merupakan obat untuk penyakit Tuberkulosis (TBC) diberikan kepada anak-anak dengan dosis antara 5 sampai 10 miligram per kilogram berat badan. Jadi kalau BB anak 10 kg, dosisnya berkisar antara 50 miligram sampai 100 miligram. Boleh juga mengambil dosis tengahnya, 75 miligram.

Pada praktiknya, menentukan dosis tidak melulu terpatok dengan cara ukur seperti itu. Dokter akan mempertimbangkan hal lain seperti usia, kondisi pasien, riwayat kesehatan pasien berserta keluarga, adanya obat penyerta, dan sebagainya.

Lantaran itu, keterangan lengkap dan jujur mengenai riwayat kesehatan dan kondisi anak, sangatlah diperlukan. Contoh, jika orang tua memiliki bakat alergi, kemungkinan anaknya akan menderita hal yang sama. Jika tidak diinformasikan, dokter bisa saja memberikan obat yang ternyata bersifat kontra dengan alerginya. Akibatnya tentu bisa fatal.

Lalu, bagaimana dengan dosis obat bebas? Orang tua tinggal mengikuti aturan dosis yang dicantumkan entah di lembar keterangan obat, pembungkus, ataupun label obat. Perlu diingat juga, dosis setiap obat bebas–walaupun memiliki khasiat sama–dapat berbeda satu sama lain. Umpamanya, dosis obat turun panas merek A untuk anak 5-7 tahun adalah satu sendok teh. Namun pada obat turun panas merek B, tertulis setengah sendok teh. Maka itu, bacalah baik-baik aturan pakainya sebelum memberikan obat kepada si kecil dan jangan mereka-reka sendiri.

Keterbatasan takaran

Masalahnya, orang tua kerap dibuat bingung karena ukuran dosis yang tertera di resep tidak sama dengan yang ada pada takaran obat. Biasanya hal ini terjadi pada obat dalam bentuk sirop.

Contoh, obat A mesti diminum 3 kali sehari 0,6 cc. Namun, dalam pipet yang diberikan tak tercantum ukuran tersebut. Tak cuma itu, dalam kemasan obat kadang tertulis, dosis sekali minum adalah 1,5 sdt. Lantas, orang tua mengartikan sebagai 1,5 sendok teh, padahal yang dimaksud adalah 1,5 sendok takar. Sayangnya, dalam sendok takar obat tidak tercantum angka itu. Yang biasanya tertulis cuma 2,5 ml dan 5 ml. Bingung, kan? Tak heran, banyak orang tua yang salah dalam memberikan dosis obat secara tepat. Perbedaan satuan “sdt” dan “ml” saja mungkin sudah membuat dahi berkerut, apalagi kalau dijumpai sendok takar atau pipet yang mencantumkan ml padahal dokter dalam resepnya menentukan dosis dengan satuan cc.

Nah, yang perlu diketahui, satuan ukuran cc (cubic centimeter) sama saja dengan ml (mililiter). Hanya saja oleh sebagian orang cc dirasa lebih familiar ketimbang ml. Itulah sebabnya dokter lebih sering menggunakan ukuran cc. Sementara takaran obat menggunakan ukuran ml. Jadi kalau dalam resep tertulis 5 cc ini serupa dengan 5 ml.

Sendok takar obat memang memiliki keterbatasan karena hanya memiliki 2 ukuran, yakni 2,5 ml dan 5 ml. Agar lebih akurat, gunakan gelas takar (beberapa sirop obat menyertakan gelas takar dalam kemasannya) yang memiliki ukuran lebih beragam; dari 2,5 ml hingga 10 ml. Juga disarankan menggunakan alat suntik (tanpa jarum) sebagai alat takar. Alat suntik memiliki ukuran yang lebih terperinci sehingga lebih akurat.

Akan halnya pipet, petunjuk ukurannya memiliki peruntukan sendiri-sendiri. Maksudnya pipet untuk sirop vitamin, umpamanya, petunjuk ukuran yang tertera biasanya antara 0,3 ml sampai 0,6 ml. Sedangkan untuk obat penurun panas adalah 0,4 ml hingga 0,8 ml. Untuk obat antijamur antara 0,5 ml sampai 1 ml.

Jika pipet yang digunakan sesuai, kesalahan dalam penakaran obat bisa diminimalisasi. Jadi, apotek wajib memberikan pipet sesuai dengan dosis obat yang diresepkan dokter jika di dalam kemasan belum disertakan pipet yang pas. Minimal pipet tersebut bisa dijadikan alat takar oleh kalangan awam. Jika pipet yang diberikan tidak sesuai, boleh kok minta ditukar.

Rentang dosis tidak kaku

Sebenarnya, penakaran dengan kelebihan atau kekurangan nol koma sekian cc tidak terlalu menimbulkan masalah. Dosis obat memiliki rentang yang tidak kaku. Selain itu dokter biasanya sudah mengantisipasi hal ini saat menuliskan resep.

Tapi tidak menutup kemungkinan dosis yang diberikan terlalu kurang atau terlalu berlebihan. Ini bisa disebabkan kesalahkaprahan seperti yang sudah diulas tadi. Umpamanya, 2,5 sdt (yang sebenarnya berarti 2,5 sendok takar) diterjemahkan sebagai 2,5 sendok teh, padahal ukuran sendok teh dengan sendok takar obat jelas-jelas berbeda.

Nah, jika pemberian dosis obat terlalu kurang, anak yang sakit tentu tidak akan kunjung sembuh. Kalaupun sembuh, hanya sementara. Beberapa waktu kemudian kambuh lagi dan biasanya kuman penyakitnya sudah menjadi lebih kuat daripada sebelumnya. Sebaliknya, dampak dosis yang berlebihan sangat bergantung pada kandungan obat dan kondisi anak yang mengonsumsinya. Apakah obat yang diminum tergolong keras atau tidak, dan apakah kondisi ginjal dan lever anak dalam kondisi baik atau bermasalah.

Jika kelebihan dosis tidak terlalu ekstrem, obat yang dikonsumsi juga bukan obat keras, serta lever dan ginjal anak dalam kondisi baik, maka obat tadi masih bisa dinetralkan oleh ginjal dan lever. Sebaliknya, kelebihan dosis yang ekstrem apalagi jika kondisi ginjal dan lever anak tidak sehat bukan mustahil menyebabkan penderita mengalami keracunan obat.

Sumber :

Gazali Solahuddin

http://www.tabloid-nakita.com/Khasanah/khasanah07336-03.htm

Narasumber:
Darmawan Budi Setyanto, MD,
dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta

3 Komentar (+add yours?)

  1. ibih
    Jan 27, 2011 @ 20:20:19

    begini,apakah 4 takar dengan sekali takar 5ml sama dengan 1 sendok teh???

    Balas

  2. Sari
    Des 01, 2011 @ 17:32:32

    Kmi sempat salah beri takaran sama anak kami. Drop,tapi kami pakai sendok takar. Apa anak kami tak apa? Pdhl seharusnya 0,6ml,tp kmi brikan 1/2 sdt.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: